Capaian Kantor Imigrasi Sambas Tahun 2019, Terbitkan 20.563 Paspor dan Launching SIMPEN PASPOR


Capaian Kantor Imigrasi Sambas Tahun 2019, Terbitkan 20.563 Paspor dan Launching SIMPEN PASPOR

IMIGRASI, SAMBAS – Pada kurun waktu Januari – Desember 2019, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sambas melakukan sejumlah pencapaian kinerja. Termasuk juga melakukan terobosan yaitu dengan melakukan launching Sistem Informasi Penerbitan Paspor (SIMPEN PASPOR) pada September lalu.

“SIMPEN PASPOR ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan paspor di Sambas dan melakukan pencegahan Pekerja Migran Indonesia yang akan bekerja secara non prosedural,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sambas, Iwan Suwanda, Rabu (31/12/2019).

SIMPEN PASPOR memudahkan pemohon paspor untuk mendapatkan informasi status permohonan paspor. Pemohon mendapatkan notifikasi melalui WhatsApp dan SMS saat alur pendaftaran hingga paspor diterbitkan.

“Dengan adanya Aplikasi SIMPEN PASPOR ini pemohon paspor akan mendapatkan informasi dampak negatif menjadi Pekerja Migran Non Prosedural dan juga masyarakat pemohon paspor akan mendapatkan informasi melalui pesan WhatsApp dan SMS bahwa paspornya telah selesai,” jelas Iwan.

Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sambas pada periode tahun 2019 ini juga telah menerbitkan 20.563 Paspor Republik Indonesia. Dan untuk layanan keimigrasian bagi WNA, Kantor Imigrasi Sambas telah menerbitkan sebanyak 9 Izin Tinggal Terbatas (ITAS) untuk Warga Negara Asing.

“Selain itu Kantor Imigrasi Sambas telah melakukan pemeriksaan keimigrasian lalu lintas orang di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, pada periode 2019 untuk keberangkatan dan kedatangan Warga Negara Indonesia (WNI) sebanyak 199.090 pelintas, sedangkan keberangkatan dan kedatangan Warga Negara Asing sebanyak 24.068 pelintas,” ucapnya.

Dalam penegakan hukum telah dilakukan proses penyidikan serta tindakan keimigrasian kepada 7 Warga Negara Asing berupa pendentensian dan tindakan deportasi terhadap Warga Negara Malaysia dan Taiwan.

“Untuk penegakan hukum pro justitia, kami membawa ke pengadilan dua orang WNA, keduanya dari Malaysia yang melanggar UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian,” tutupnya.

 

 



FORM KOMENTAR